Belajar di Kampung Inggris Pare

Sekitar sebulan yang lalu saya mengikuti kelas kursus Bahasa Inggris di Global English, Pare, Kediri. Pare atau yang lebih popular disebut Kampung Inggris menjadi semacam pusat kursus Bahasa Inggris dan menyedot banyak perhatian tak hanya dari warga Kediri, tapi sampai seluruh Indonesia. Buktinya, classmate saya ada yang berasal dari Padang, Palembang sampai Makassar.

Oleh: Nenden San | @Nden*

Keputusan untuk pergi ke Pare dan belajar di sana pun bisa dibilang mendadak, karena setelah resign dari pekerjaan saya, rencana itu tidak masuk ke dalam agenda saya selama masa transisi sebelum kembali ke Cianjur. Meskipun ada rencana kursus Bahasa Inggris, tapi tidak sampai ke Pare. Ide itu malah muncul dari roommate saya, Iyem. Sejak iyem berujar tentang itu, tanpa tedeng aling-aling saya langsung cari informasi dan mendaftar via online. Alhasil saya ikut program periode tanggal 10 di Februari.

Tanpa teman, akhirnya saya berangkat sendiri ke Kediri, berbekal pengalaman saya pernah backpacking ke sana selama tiga hari di tahun 2011, saya merasa PD-PD saja untuk menikmati perjalanan solo itu. Tapi ternyata perjalanan tak semulus yang dibayangkan. Saya berangkat menggunakan bus Rosalia Indah dari Solo sekitar pukul 11.00 dan sampai ke Kediri sekitar pukul 16.00. Saat itu saya sempat mengalami insiden karena seharusnya turun di terminal, ternyata kebablasan dan terpaksa harus naik ojeg sampai ke halte untuk naik angkot. Dari sana, saya lanjut naik angkot ke Pare dan sampai di lokasi sekitar pukul 17.30.

Karena awalnya saya tidak mau direpotkan lagi sesampainya di sana, waktu pendaftaran online saya sekaligus memilih paket yang sudah terintegrasi dengan penginapan/camp di English Zone, sehingga tempat tinggal saya selama dua pekan di sana sudah terjamin.

Di sana saya tinggal di dormitory atau asrama bersama sembilan orang lainnya yang berasal dari Cirebon dan Semarang, juga satu orang pembina dormitory. Hidup dua minggu di dormitory membuat saya belajar menjadi anak kos yang sesungguhnya, soalnya ada program pagi yang mewajibkan semua anggota asrama bangun maksimal pukul 05.00 WIB, belum lagi sepekan sekali kebagian tugas piket bersih-bersih. Padahal selama di Solo saya jarang bisa bangun pagi banget apalagi sampai bersih-bersih. Hidup di asrama juga membuat saya harus mencuci baju sendiri, padahal biasanya dititip ke laundry.

Kegiatan wajib di dormitory adalah program pagi pada 05.00-06.00 dan program malam pada 18.30-19.30, selain itu di sana diterapkan kawasan wajib berbahasa Inggris dan memaksa kami menggunakan Bahasa Inggris jika tidak mau diberi sanksi.

Kemudian untuk program kursusnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu main class dan extended class, setiap harinya ada tiga pertemuan masing-masing 1,5 jam untuk main class di pagi dan siang hari, dan extended class di sore hari. Pada saat itu saya mengambil kelas conversation 3, vocabulary 3 dan pronunciation 1.

Selama dua minggu di sana, ada beberapa perubahan signifikan yang saya rasakan, pertama adalah meningkatnya kepercayaan diri untuk berbahasa Inggris, pasalnya dengan suasana yang kondusif dan lingkungan belajar yang mendukung membuat kita tak segan dan malu untuk belajar.

Selama ini yang saya rasakan menjadi kendala dalam berbahasa Inggris adalah perasaan malu jika salah dan itu membuat saya enggan menggunakannya. Tetapi di Pare, karena semua yang datang ke sana memang berniat untuk sama-sama belajar, maka perasaan malu dan takut salah itu pun hilang, apalagi di sana tak hanya rekan-rekan sebaya, tapi sampai bapak-bapak juga semangat mengikuti pelajaran, hal itu yang juga selalu mendorong saya untuk tetap giat belajar.

~~~
Tulisan ini dimuat dengan persetujuan dari penulisnya. Bila ada komentar tentang tulisan ini bisa disampaikan langsung di sini: http://nurannisaa7.wordpress.com/2013/03/13/belajar-di-kampung-inggris-pare/

8,981 total views, 2 views today

3 Responses so far.

  1. Wahhh.. kangennnn..
    kapan yang bisa ke Pare lagi, minimal 3 bulan deh biar puas… ๐Ÿ™‚

    Best Regards,
    Nenden ๐Ÿ™‚

Leave a Reply