Tentang Kampung Inggris Pare Kediri(10): Asal-Usul Nama Pare

(ref: makanansehat.web.id)

(ref: makanansehat.web.id)

Akhirnya saya tahu, memang ada nama daerah bernama Pare. Selama ini saya tahu, Pare adalah jenis sayur-sayuran. Bentuknya bulat lonjong kayak Mentimun. Tapi kalau Mentimun kulitnya mulus, maka Pare ini kulitnya kasar. Berkerut-kerut memanjang dari pangkal ke ujung.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Aneh juga waktu pertama kali mendengar nama daerah ‘Pare’. Makanya saya tak yakin dengan nama ini, sehingga saya sampai meyakinkan pada yang memberitahu nama ‘Pare’ ini pertama kali.

“Pare-Pare ta maksudnya?”

“Bukan. Itu daerah di Sulawesi. Ini ada di Jawa. Tepatnya di Jawa Timur.”

“Masak?” batin saya, sambil menggaruk-garu kepala saya yang tidak gatal. Saya memang baru pertama kali tahu ada daerah nama ‘Pare’.

Akhirnya saya tahu, memang ada nama daerah bernama Pare. Selama ini saya tahu, Pare adalah jenis sayur-sayuran. Bentuknya bulat lonjong kayak Mentimun. Tapi kalau Mentimun kulitnya mulus, maka Pare ini kulitnya kasar. Berkerut-kerut memanjang dari pangkal ke ujung.

Rasa dagingnya pahit. Dan bijinya keras. Untuk memakannya tidak perlu dikupas. Tinggal dimasak saja.

Untuk daerah Jawa Timur, Pare ini dijadikan pepesan (bothok, jw). Yakni dicampur dengan potongan tempe, tahu, lamtoro dan parutan kelapa. Semuanya dicampur dan dibungkus dengan daun pisang. Lalu dikukus.

Saya sendiri suka Pare ditumis. Dioseng-oseng, istilahnya Jawa. Dicampur dengan irisan Lombok dan ikan teri. Wow, sedap sekali. Hehehe.

Untuk di luar Jawa Timur, seperti orang Bandung, Pare ini dikukus untuk dimakan bareng dengan Siomay kukus. Saya seumur-umur tidak mau makan Pare hanya seperti ini. Membayangkan pahitnya. Tapi entahlah, mungkin tidak benar bayangan saya itu. Yang jelas saya tidak pernah makan Pare dengan hanya dikukus seperti ini.

Jadi kembali ke daerah Pare itu, apakah dinamakan daerah Pare ini karena meruapakan daerah penghasil sayuran Pare itu? Entahlah. Tapi saya lihat di pasar, banyak juga Pare diperjual-belikan di sini. Dan Parenya besar-besar.

Tapi saya baca-baca, nama Pare ini berasal dari kependekan ‘Palerenan’. Artinya peristirahatan. Memang Pare tempat transit antara daerah Timur seperti Surabaya ke arah selatan seperti Blitar. Atau antara daerah timur seperti Madiun ke arah selatan-timur seperti Malang. Sehingga para musafir yang melakukan perjalanan pasti beristirahat di sini.

Ini seperti masuk akal. Meski bagi saya agak aneh juga. Karena di Pare, tidak banyak tempat penginapan. Mungkin istirahat tidak perlu tidur ya? Cukup makan-makan dan minum. Kalau ini sangat benar. Karena memang banyak tempat yang bisa dijadikan jujukan untuk makan. Hehehe. Anda bisa baca tulisan-tulisan saya yang lain tentang wisata kuliner di Pare.

Tapi saya suka pelesetan istri saya tentang kotanya ini. Katanya, “Pare iku dienggoni kere, tapi ditinggal dadi awe-awe.” Maksudnya kalau hidup di sini, Pare, tidak bisa berkembang. Makanya banyak anak muda Pare yang melakukan migrasi ke kota-kota besar untuk mencari penghidupan. Tapi kalau jauh dari kota Pare, bikin kangen ingin pulang. Seakan-akan Pare melambai-lambai meminta datang. Hehehe. Ada-ada saja istri saya ini. [PUTA, 16/12/2013]

~~~
Untuk mencari paket holiday programs yang menarik dapat melihat menu holiday programs di website ini.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang ‘online communication’, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.

26,781 total views, 2 views today

One Response so far.

Leave a Reply