Tentang Kampung Inggris Pare Kediri(4): Nasi Burung Puyuh (Wisata Kuliner di Pare)

(ref: putroeintan.blogspot.com)

(ref: putroeintan.blogspot.com)

Tapi kalau nasi puyuh? Nasi puyuh? Ya, sama dengan nasi ayam. Nasi dengan lauk ayam dimakan pakai sambal dan lalapan. Namun lauknya bukan ayam, bukan bebek, bukan burung dara tapi burung puyuh. Ya, burung puyuh. Burung yang menghasilkan telur-telur kecil dengan bintik-bintik hitam di kulit telurnya.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Nasi ayam? Ya, itu biasa. Apalagi nasi ayam goreng. Dimana-mana bisa kita temukan. Tidak hanya di mall-mall, restoran, tapi sekarang dengan mudah kita temukan di kampung-kampung. Dari harga mahal sekelas McD, KFC sampai murah meriah seperti Quick Chicken, Tobby Chicken dan lainnya yang seperti bagaikan jamur tumbuh di musim penghujan.

Nasi bebek? Ini juga jamak, meski tidak sebanyak nasi ayam. Tapi dengan mudah kita akan temukan nasi bebek. Bahkan jaringan Bebek Purnama sudah memenuhi jalan-jalan di Surabaya dan Sidoarjo (padahal cabang Purnama ini tidak berhubungan dengan aslinya Purnama yang depan bioskop Purnama di Keputran).

Nasi burung dara? Memang sudah susah menemukannya. Namun masih bisa kita temukan restoran atau warungnya, meski mahal harganya dibandingkan nasi ayam atau bebek.

Tapi kalau nasi puyuh? Nasi puyuh? Ya, sama dengan nasi ayam. Nasi dengan lauk ayam dimakan pakai sambal dan lalapan. Namun lauknya bukan ayam, bukan bebek, bukan burung dara tapi burung puyuh.

Ya, burung puyuh. Burung yang menghasilkan telur-telur kecil dengan bintik-bintik hitam di kulit telurnya. Kalau telurnya, kita akan mudah menemukannya. Baik hanya dimasak terus dijadikan sate atau dioseng-oseng. Tapi kalau burungnya digoreng dan dimakan bersama lalapan dan sambal, mungkin jarang kita temukan.

Di Pare, kita dapat menemukannya. Lokasinya di desa Pelem. Di pinggir jalan raya Kediri – Jombang/Malang. Tempatnya persis depan masjid. (Ada untungnya depan masjid, karena halaman warungnya tidak ada/sempit, maka lebih baik parkir di halaman masjid saja. Hehehe.)

Warungnya kecil. Tidak banyak meja dan kursi di sana. Menu standarnya adalah nasi ayam dan bebek. Yang spesial adalah nasi puyuh. Karena spesial tentu saja tidak selalu ada. Ya, tergantung ada pasokan atau tidak.

Biasanya burung puyuh yang dikonsumsi itu adalah burung puyuh afkiran. Yakni burung puyuh yang sudah tidak bertelur lagi. Oleh peternaknya dijual untuk dimakan dagingnya. Jadi tidak berniat sejak awal memelihara burung puyuh untuk dikonsumsi (sembelih). Makanya stoknya tidak sebanyak seperti ayam atau bebek yang memang ada ayam pedaging.

Satu porsi berisi 2 ekor burung puyuh yang sudah digoreng agak garing. Jadi dimakan terasa empuk dan gurih. Rasanya beda dengan ayam. Entah, mungkin sama dengan burung dara. Tapi saya tidak pernah makan burung dara goreng. Burung puyuh ini diletakkan di atas cobek yang berisi sambal. Di tepinya ada kacang panjang, kemangi dan daun kol (saya menulis ini sambil air liur saya menetes di dalam mulut, hehehe).

Dimakan bersama sambal. Wuuih… sedap sekali. Dan di Pare masakan khas ini ada. Saya belum menemukan di kota lain. Mungkin ada, tapi saya tidak tahu. Makanya kalau ada, tolong dikomentari artikel ini. Tapi kalau Anda tidak menemukan di dekat-dekat tempat Anda, kenapa tidak ke Pare? Ke Kampung Inggris. Sekalian liburan dan belajar bahasa Inggris. Hehehe. [SUMA, 18/6/2013 siang]

~~~
Artikel selanjutnya: Tentang Kampung Inggris Pare Kediri(5): Legen Nira Kelapa (Wisata Kuliner Pare)
Artikel sebelumnya: entang Kampung Inggris Pare Kediri(3): Naik Angkutan Kereta Api ke Pare (Update 4/6/2013)

Untuk mencari paket holiday programs yang menarik dapat melihat menu holiday programs di website ini.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang II, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.

15,784 total views, 2 views today

9 Responses so far.

  1. […] Tapi saya temukan nasi puyuh ini Pare, Kediri. Di kampung Inggris. Rasanya… hmmm jelas beda. Penasaran? Baca saja artikel saya terbaru di sini: http://kampunginggris.co/2013/tentang-kampung-inggris-pare-kediri4-nasi-burung-puyuh-wisata-kuliner-… […]

  2. widia says:

    dimana-mana Bapak ini kalo nulis pake bersambung….cape deeeh…

    • @Widia
      Hahaha… Ini tulisan serial. Ya, bersambungnya di sini karena ada kaitannya yakni Pare. Tapi ceritanya selesai. Seperti tulisan serialnya Dahlan Iskan “Manufacturing Hope”. Satu tulisan ya selesai. Namun tulisan Dalan Iskan ini bercerita tentang BUMN. Tulisannya sekarang ada 80an. Dan tidak bikin capek, karena ini bukan novel. Karena tidak nyambung dengan tulisan sebelum dan sesudahnya.. Demikian juga tulsian saya. Satu judul ya selesai.

    • Tapi masukanmu bagus juga. Saya tidak membayangkan, kalau tulisan bersambung dianggap belum selesai. Bagaikan cerita bersambung seperti cerbung di surat kabar atau majalah. Maka saya hapus saja tulisan ‘BERSAMBUNG’ itu. Daripada multitafsir dan membuat jengkel, saya hapus saja.

      • Edi Purwanto says:

        Sebaiknya klo memang masih ada lanjutannya ya ditulis .. bersambung.. tp klo sudah selesai ya ditulis aja tamat dibelakang serial tadi misal Tentang Kampung Inggris Pare Kediri(3-tamat).. jadi gak bikin orang jengkel atau klo ceritanya menarik, org pasti nunggu edisi berikutnya

        • @Edi Purwanto
          Serial yang dimaksud di sini adalah tema bahasan. Bukan bermaksud seperti cerita bersambung. Jadi tiap tulisan ya langsung tamat. Tapi masih ada cerita2 lain dengan tema sejenis asalkan masih satu serial. Demikian. Semoga semakin jelas.

  3. […] ~~~ Artikel selanjutnya: Artikel sebelumnya: Tentang Kampung Inggris Pare Kediri(4): Nasi Burung Puyuh (Wisata Kuliner di Pare) […]

  4. […] ~~~ Artikel selanjutnya: Artikel sebelumnya: Tentang Kampung Inggris Pare Kediri(4): Nasi Burung Puyuh (Wisata Kuliner di Pare) […]

  5. Brahm says:

    Nama masjidnya apa, Pak? Terus harganya berapa? Lebih mahal nggak dengan nasi bebek/ayam di tempat yang sama?

Leave a Reply