Bandung Kini (2): Kereta Ekonomi Yang Favorit

Rangkaian kereta ekonomi Pasundan Surabaya - Bandung PP yang kita naiki. (ref: dok. pribadi)

Rangkaian kereta ekonomi Pasundan Surabaya – Bandung PP yang kita naiki. (ref: dok. pribadi)

Dulu kalau naik kereta ekonomi rasanya sumpek. Sangat menderita. Karena berdesak-desakan. Dulu sepertinya konsep manajemen kereta api adalah bila ada penumpang ingin naik ya dilayani meski tidak ada tempat duduk. Manajemen kereta api tidak peduli bagaimana penumpang ini nantinya di atas kereta.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Liburan ke Bandung kemarin kita berangkat naik kereta Pasundan. Ini kereta ekonomi. Sebenarnya awalnya ada beberapa alternatif transportasi yang mau kita pakai. Seperti naik pesawat terbang.

Tapi pengalaman saya dan istri naik pesawat terbang dari Surabaya ke Bandung atau sebaliknya, tarifnya mahal dan jadwalnya banyak tidak tepat. Dulu untuk ‘mengakali’ tarif lebih murah, kita pakai rute Surabaya – Jakarta, terus ke Bandung naik darat atau sebaliknya.

Lalu alternatif berikutnya naik kereta eksekutif atau bisnis. Untuk itu, saya mencoba mencari informasi jadwal dan tarif kereta eksekutif dan bisnis lewat internet. Ternyata tanggal yang saya inginkan sudah penuh. Ya, saya kira wajar karena jadwal saya itu ada di hari liburan. ‘Peak season’ istilahnya.

Saya jadi bimbang. Ingin liburan ke Bandung tapi tak tahu harus naik apa. Naik bis tidak ada dalam bayangan kita. Satu-satunya alternatif naik kereta ekonomi. Tapi saya khawatir dengan kondisi kereta ekonomi.

Lalu ada kabar dari istri, bahwa kalau ekonomi ada kursi yang tersedia. Ini informasi dari keponakan yang kita suruh mencari informasi jadwal dan tiket ke Bandung langsung di stasiun. Dan harganya ternyata cukup murah. 55 ribu! Karena kita takut nanti juga habis tiketnya kalau tidak keburu beli, maka saya putuskan naik kereta ekonomi. Yakni Pasundan.

Tetap ada kekhawatiran dalam hati saya bagaimana kondisi naik kereta ekonomi. Apalagi bawa anak-anak kecil. Tapi kata keponakan yang sering naik kereta ekonomi, sekarang kondisinya berbeda dengan dulu. Sekarang keretanya ber-AC. Juga bersih dan tidak ada desak-desakan. Karena semua penumpang harus bertempat duduk.

Mendapat informasi seperti ini, saya tetap khawatir. Tapi saya coba tenangkan hati saya bahwa kita liburan bareng. Liburang dengan banyak orang. Bersama keluarga. Dengan bareng seperti ini, apapun jadi senang karena banyak temannya. Hehehe.

Ya, saya patut khawatir naik kereta ekonomi. Sudah lama saya tidak naik kereta ekonomi. Yang sering selama ini adalah naik kereta eksekutif. Bisnis pun jarang. Ini saat melakukan perjalanan dinas. Alias dibayari kantor. Hehehe. Perjalanan naik eksekutif ini sering saya lakukan saat ke Jakarta dan Bali.

Tapi terakhir kali saya juga jarang naik kereta eksekuif. Karena kantor akhirnya memutuskan perjalanan dinas pakai pesawat terbang. Alasan kantor selisihnya hanya sedikit dengan biaya kereta api eksekutif. Padahal selisih waktu lama perjalanan antara naik kereta dan pesawat sangatlah lama. Selisihnya bisa 9 jam sendiri. Bandingkan kalau naik kereta kita sudah berangkat pk 21.00 sebelum hari kedatangan. Sedangkan naik pesawat bisa di hari itu, karena ke Jakarta cukup sejam.

Terakhir kali saya naik kereta ekonomi pada tahun 1999. Yakni saat saya masih kerja di SCTV. Keretanya juga sama yakni Pasundan. Tapi tujuan saya waktu itu ke Solo. Sedangkan naik Pasundan dengan tujuan ke Bandung, terakhir kali pada 1991, saat liburan kenaikan tingkat 1 ke 2 kuliah.

Dulu kalau naik kereta ekonomi rasanya sumpek. Sangat menderita. Karena berdesak-desakan. Dulu sepertinya konsep manajemen kereta api adalah bila ada penumpang ingin naik ya dilayani meski tidak ada tempat duduk. Manajemen kereta api tidak peduli bagaimana penumpang ini nantinya di atas kereta.

Jadinya ramai sekali. Setiap ada tempat lowong pasti dijadikan tempat duduk. Pijakan tangan di pinggir kursi dijadikan tempat duduk. Antara kursi dijadikan tempat duduk. Bahkan meja kecil tempat makanan atau minuman juga buat tempat duduk.

Lorong sudah pasti dijadikan tempat duduk. Bahkan lorong dekat kamar mandi juga ditempati. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana tersiksanya yang duduk di sini karena baunya yang nggak sedap dari kamar mandi. Betul, kamar mandinya sangat bau karena jorok.

Sudah begitu yang berjualan saat kereta berjalan sangat banyak. Penjual apapun banyak disini. Juga pengamen, pengemis dan penyapu lantai. Modus-modusnya macam untuk mendapatkan uang dari penumpang.

Jadi sumpek rasanya naik kereta ekonomi. Itu pun ditambah kondisi gerah dan panas karena hanya pakai kipas. Padahal sering mati. Jadi andalannya angin dari jendela. Tapi kalau kereta berhenti, bisa dibayangkan panasnya di dalam. Padahal kereta ekonomi sering berhenti karena harus ‘mengalah’ pada kereta eksekutif dan bisnis.

Mendapat pengalaman seperti ini, saya khawatir naik ekonomi.

Ternyata sekarang kondisi kereta ekonomi sangat jauh berbeda. Liburan akhir tahun naik Pasundan itu ternyata sejuk bahkan dingin. Karena tiap gerbong sudah dilengkapi AC meski split. Bukan terpusat (central) seperti kerete eksekutif. Lantainya juga bersih. Saya lihat sudah ada petugas ‘cleaning service’ tersendiri.

Penumpang yang naik harus bertiket dan sudah pasti tempat duduknya. Jadi tidak ada penumpang yang naik tanpa tempat duduk, sehingga tidak ada desak-desakan. Tidak perlu menggelar tikar atau koran di lantai buat duduk seperti dulu.

Meski penjual, pengamen dan pengemis masih ada, tapi tidaklah sebanyak dulu. Dan hanya di rute-rute tertentu. Saya pikir kalau di suatu rute bebas pengamen, penjual dan pengemis, di rute lainnya harusnya bisa juga. Tergantung niat kepala stasiunnya.

Yang menarik adalah di bawah tempat makanan dan minuman ada colokan listriknya. Jadi bisa digunakan untuk mencharge baterai ponsel atau laptop. Ini sangat membantu khususnya perjalanan jauh yang memakan waktu lama. Sehingga komunikasi tetap lancar jaya karena baterai ponsel yang selalu tersedia. Jadi sudah sangat nyaman melakukan perjalanan dengan naik kereta ekonomi.

Keputusan saya memilih kereta ekonomi ternyata sudah tepat. Sudah cukup nyaman dinikmati oleh anak-anak di perjalanan. Dan bagi orang tuanya seperti saya juga bisa menghemat banyak anggaran. Contoh perjalanan Surabaya – Bandung PP sekeluarga (4 orang) hanya mengeluarkan biaya 420.000. Hehehe, cukup hemat.

Jadi kelak kalau memang harus naik kereta ekonomi, saya tidak khawatir lagi mengajal keluarga. Anda juga kan? [TSA, 2/1/2014]

~~~
Untuk mencari paket holiday programs yang menarik dapat melihat menu holiday programs di website ini.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang ‘online communication’, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.

17,169 total views, 5 views today