Bandung Kini (4): Menjamurnya Wisata Kuliner di Bandung

Batagor yang dijual pedagang kaki lima dekat Pasar Baru Bandung. Lumayan enak rasanya. Harganya tentu saja bersahabat bagi kantong. Hehehe, (dok. pribadi)

Batagor yang dijual pedagang kaki lima dekat Pasar Baru Bandung. Lumayan enak rasanya. Harganya tentu saja bersahabat bagi kantong. Hehehe, (dok. pribadi)

Tapi, sebagai arek Suroboyo, saya merasa harga makanan di Bandung terasa mahal bila dibandingkan di Surabaya. Bahkan dibandingkan dengan restoran dengan kelas yang sama. Mungkin makan di rumah makan seperti ini tidak sekedar makan, tapi juga bersantai. Atau menikmati liburan.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Yang terkesan saat liburan akhir tahun 2013 kemarin di Bandung adalah begitu banyaknya tempat makan di sana. Luar biasa. Rasanya semua restoran yang beroperasi di Indonesia, membuka cabang di sana. Dan saya lihat semua restoran tersebut penuh. Ini terlihat di parkirannya yang penuh dengan mobil.

Kebanyakan restoran tersebut berada di lokasi kota Bandung ‘lama’. Ini istilah saya di tempat yang sudah ada sejak jaman dulu. Mungkin sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Cirinya lokasinya di dekat pusat kota, samping jalannya ada trotoar atau halaman yang ditanami pohon atau taman. Saking lamanya, pohonnya tampak besar dan tinggi.

Ciri lainnya adalah menggunakan rumah. Bukan bangunan baru yang dirancang khusus sebagai restoran. Tapi rumah yang dirombak menjadi restoran. Jadi kalau diamati dari luar jelas seperti rumah. Sedang kalau masuk ke dalam, kalau lebih teliti akan melihat bagian-bagian dari rumah, seperti bekas kamar tamu, kamar dan lainnya.

Jadi kalau makan di restoran-restoran ini serasa makan di rumah. Apalagi taman-taman, koridor, selasar dipertahankan. Jadii kalau makan di luar ruang, bukan di dalam rumah, seperti di selasar rasanya seperti di rumah. Tampak asri, teduh dan sejuk. Cuaca kota Bandung sangat mendukung romantika makan di luar seperti ini.

Ini yang menjadi daya tarik kota Bandung. Apalagi rumah-rumah kuno peninggalan Belanda ini ini banyak ditemukan di Bandung. Bila waktu-waktu mendatang Bandung semakin ramai maka rumah-rumah seperti ini bisa berubah menjadi restoran.

Yang menarik lainnya, rumah makan ini kadang menggunakan tema. Misal: menjual makanan yang bahannya ada coklatnya, sehingga menamakan sebagai ‘Rumah Coklat.’ Atau ada ‘Rumah Sosis’. Rumah makan ini jelas menggunakan bahan makanan sosis. Dan masih banyak lainnya.

Berapa harganya?

Standard. Ya, nggak terlalu mahal atau murah. Ini sesuai dengan kualitas dan tempat makannya yang enak. Apalagi restoran ini kebanyakan didatangi saat liburan. Atau ‘week end’. Jadi tentunya makan di sini hanya sekali-sekali atau tidak setiap hari. Karena itu, kalau ‘week end’ atau hari libur, restoran seperti ini penuh pengunjung. Kalau kita terlambat datang, bisa tidak dapat tempat.

Tapi, sebagai arek Suroboyo, saya merasa harga makanan di Bandung terasa mahal bila dibandingkan di Surabaya. Bahkan dibandingkan dengan restoran dengan kelas yang sama. Mungkin makan di rumah makan seperti ini tidak sekedar makan, tapi juga bersantai. Atau menikmati liburan. ‘Life style’ kata orang-orang. Jadi gaya hidup menghabiskan waktu libur dengan bersantai sambil makan dan bercengkerama dengan teman-teman atau keluarga.

Yang lain, adalah saya kesulitan mencari makanan enak yang dijual oleh pedagang kaki lima. Atau yang dijual kelas warung atau depot kecil. Di Surabaya banyak makanan enak justru dijual di pedagang kaki lima, warung atau depot kecil. Misal: ‘Lontong Tahu Tek’ terenak di Surabaya ada di warung pak Ali di jalan Dinoyo. Warungnya kecil bahkan sebagian memakan jalan. Tapi enak banget. Yang di restoran kalah enak. Harganya tentu saja bersahabat.

Yang lain ada ‘Lontong Balap’ enak di deretan penjual kaki lima di jalan Kranggan. Depan ex bioskop Garuda. Atau rawon atau soto daging enak yang bisa ditemui di kumpulan warung tenda belakang Taman Bungkul. Warungnya dikenal sebagai ‘Rawon Kalkulator’. Ini juga pedagang kaki lima.

Entah apa karena hanya sebentar di Bandung, semingguan, saya belum bisa ‘explore’ makanan enak tapi yang jual pedagang kaki lima. Mungkin lain waktu, saya harus riset dan banyak tanya-tanya lagi untuk mencari makanan enak di Bandung tapi kelas kaki lima. Semoga saya masih bisa melakukannya lagi kelak. Aamiiin. [QHRM, 24/1/2014]

~~~
Untuk mencari paket holiday programs yang menarik dapat melihat menu holiday programs di website ini.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang ‘online communication’, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.

9,514 total views, 2 views today

2 Responses so far.

  1. Ivan says:

    saking banyaknya tempat kuliner di bandung, tiap weekend jadinya macet terus mas :))

Leave a Reply